Kangen.
Kangen ketawa.
Kangen storytelling.
Kangen ke rumah kamu.
Kangen jajan bareng.
Kangen solat bareng.
Kangen kita berantem terus baikan.
Kangen.
Was that easy?
Leaving me.
Just walking away like it was nothing.
Like we were nothing.
Like I was nothing.
It’s hurt you know.
JAWABAN MENURUT:
Guru TK:
Supaya sampai ke ujung jalan.
FBI:
Beri saya lima menit dengan ayam itu, saya akan tahu kenapa.
Aristoteles:
Karena merupakan sifat alami dari ayam.
Martin Luther King, Jr.:
Saya memimpikan suatu dunia yang membebaskan semua ayam menyeberang jalan tanpa mempertanyakan kenapa.
Sigmund Freud:
Fakta bahwa kalian semua begitu peduli pada alasan ayam itu menunjukkan ketidaknyamanan seksual kalian yang tersembunyi.
George W Bush:
Kami tidak peduli kenapa ayam itu menyeberang! Kami cuma ingin tau apakah ayam itu ada di pihak kami atau tidak, apa dia bersama kami atau melawan kami. Tidak ada pihak tengah di sini!
Charles Darwin:
Ayam telah melalui periode waktu yang luar biasa, telah melalui seleksi alam dengan cara tertentu dan secara alami tereliminasi dengan menyeberang jalan.
Albert Einstein:
Apakah ayam itu menyeberang jalan atau jalan yang bergerak di bawah ayam itu, itu semua tergantung pada sudut pandang kita sendiri.
Nelson Mandela:
Tidak akan pernah lagi ayam ditanyai kenapa menyeberang jalan! Dia adalah panutan yang akan saya bela sampai mati!
Thabo Mbeki:
Kita harus mencari tahu apakah memang benar ada kolerasi antara ayam dan jalan.
Isaac Newton:
Semua ayam di bumi ini kan menyeberang jalan secara tegak lurus dalam garis lurus yang tidak terbatas dalam kecepatan yang seragam, terkecuali jika ayam berhenti karena ada reaksi yang tidak seimbang dari arah berlawanan.
Miyabi:
Ooohh… Aahhh… Yeeahh… Mmmhhh…
Programmer Oracle:
Tidak semua ayam dapat menyeberang jalan, maka dari itu perlu adanya interface untuk ayam yaitu nyeberangable, ayam-ayam yang ingin atau bisa menyeberang diharuskan untuk mengimplementasikan interface nyebrangable, jadi di sini sudah jelas terlihat bahwa antara ayam dengan jalan sudah loosely coupled.
Sutiyoso:
Itu ayam pasti ingin naik busway.
Soeharto (alm):
Ayam-ayam mana yang ndak nyebrang, tak gebuk semua! Kalo perlu ya dikebumikan saja.
Habibie:
Ayam nyeberang dikarenakan ada daya tarik gravitasi, dimana terjadi percepatan yang mengakibatkan sang ayam mengikuti rotasi dan berpindah ke seberang jalan.
Nia Dinata:
Pasti mau casting ‘30 Hari Mencari Ayam’ ya?
Desi Ratnasari:
No comment!
Ahmad Dhani :
Asal ayam itu mau poligami, saya rasa gak ada masalah mau nyebrang kemana juga…
Chinta Laura:
Ayam nyebrang jhalaan..? karena gak ada owject…biecheeck. …
Julia Perez:
Memangnya kenapa kalo ayam itu menyeberang jalan? Karena sang jantan ada di sana ! Daripada sang betina sendirian di seberang sini, yaaahhhh dia kesana laahh… Cape khan pake alat bantu terus?
Susno Duaji:
Waktu itu saya yang terlintas di pikiran saya bahwa ayam itu khan hanya binatang biasa, pasti bisa khilaf.. (sambil sesenggukan) .
Butet Kartaredjasa:
Lha ya jelas untuk menghindari grebekan kamtib to?
Megawati:
Ayamnya pasti ayam wong cilik. Dia jalan kaki toh?
Harmoko:
Berdasarkan petunjuk presiden.
…..and the best answer is:
Gus Dur :
“Kenapa ayam nyebrang jalan? Ngapain dipikirin? Gitu aja kok repot! Bukannya kerja tapi malah baca ginian…”
Malam hari aku sempatkan online berbagai website di dunia maya. Handphone telah siap berada di samping laptopku. Lagu dari Tahiti 80 menemaniku malam ini. Sungguh tiada rasa sunyi untuk menunggu sebuah moment. Prosesi apa yang akan kau beri tahun ini?, itu pertanyaan yang ada di benakku. Agar tidak mengantuk untuk menunggu telah malam, aku mencoba menyeduh secangkir kopi lalu aku bawa dan simpan di sebelah laptopku. Tepat pukul 0.00 tiba, sudah ada 5 orang yang meng-wall di facebook untuk memberikan ucapan selamat atas semakin tuanya umurku. Tak lupa di tiap akhir ucapan, mereka semua menyelipkan kata, “jangan lupa traktirannya” dan aku cuma bisa membalasnya dengan “Insya Allah kalau dompet tidak kena musibah”. Makin malam makin bertambah saja yang meng-wall dan meng-sms memberi ucapan tapi kau tak jua memberi ucapan untukku. Apakah kau akan memberi ucapan lewat saluran telepon? . Sudah pukul 2.00, aku sudah tak kuat lagi untuk menghempaskan rasa kantuk di kasur. Aku pun tidur dan sementara tak memikirkan kamu.
Pagi hari tiba. Saat bangun ada satu hal yang aku tuju yaitu handphoneku. Tak ada juga sms darimu dan tak ada juga wall darimu. Apa kamu lupa hari ulang tahunku atau kau sengaja tak mengucapkannnya untukku? . Ya sudah aku tunggu saja ucapanmu itu di sekolah nanti. Sampai bertemu.
Ketika di sekolah, ada sedikit keganjilan dengan keadaan yang tak biasa. Semua orang yang melewatiku begitu berkaca-kaca matanya. Aku selidiki ada apa ini. Lalu aku menuju ke kelasmu yang berada jauh dengan kelasku. Saat sampai kelasmu keganjilan itu menjadi-jadi. Di depan pintu aku melihat semuanya berairmata. Aku panggil seorang temanmu lalu aku bertanya padanya “Ada apa ini? Apa Wanda sudah masuk kelas? . Temanmu menjawab, “Wanda sudah tidak akan masuk kelas ini Rey” . “Hah kenapa?” Tanya diriku. “Maaf Rey dia telah dipanggil oleh-Nya tadi subuh”. Tubuhku terasa lepas dari jiwaku saat mendengar ucapan itu. Aku sungguh tak percaya kau telah meninggalkanku begitu lebih awal dan lebih cepat. Kau dulu pernah bilang, “Aku sudah sembuh dari infeksi paru-paruku, kamu nggak usah cemas lagi Rey”. Ternyata Tuhan begitu lebih mencintainya daripada aku yang mencintainya. Tuhan tidak mau kamu menahan sakit lagi. Aku dengan mata yang berkaca-kaca dan nafas yang tidak teratur mencoba untuk mengatakan “Innalillahi wainnailaihi rajiun”. Kemudian temanmu memberikan secarik kertas yang telah kau lipat dan simpan di meja belajarmu. Ibumu menemukannya saat kau beberapa menit telah meninggalkan dunia ini. Lalu aku coba buka secarik kertas itu dan mencoba membacanya. Baru pertama kali ini aku lihat tulisanmu begitu jelek dan aku membaca kata-kata:“Selamat ulang tahun Rey sayang. Maaf aku telah dipanggil
Oleh-Nya. Aku menulis surat ini disaat aku mencoba rasa sakit
di paru-paruku ini. Temukan cintamu. Cari wanita
yang tepat untuk kau miliki. Terima kasih untuk 3 tahun ini.
Kau seperti awan yang ada di atas kepalaku. Tapi Tuhan sudah tidak suka aku sakit-sakitan lagi. Maaf aku sudah tidak bisa menulis
banyak kata lagi. Jaga dirimu Rey. Berdoalah sepenuh hati Insya Allah
satu semesta akan mengaminkan doamu itu.”Semakin sedih saja aku ini saat melihat titik di ujung suratmu itu. Jaga dirimu juga Wanda di alam sana. Jika Tuhan lebih sayang padamu, pasti kau akan diterima disisi-Nya. Selamat tinggal. Semoga kita bertemu di akhirat nanti.